Fenomena Menggelitik pada Remaja

Suatu malam saya pergi ke sebuah pasar di kota tempat saya tinggal. Selain untuk melepas kepenatan setelah beraktivitas seharian penuh, kebetulan ada sesuatu yang hendak saya beli di pasar tersebut. Perjalanan dari tempat tinggal saya ke pasar yang dituju membutuhkan waktu kira-kira tiga puluh menit dengan angkutan umum. Saya suka pergi kemana-mana dengan menumpang angkot, bagi saya ini semacam refreshing dan sarana relax yang cukup murah meriah. Selain bisa mengamati hal-hal menarik sepanjang perjalanan, saya juga sangat suka mengamati orang-orang yang lalu lalang di pinggir jalan yang silih berganti menumpang angkot yang kadang-kadang diselingi dengan berbagai topik obrolan. Diiringi dengan musik yang seolah wajib bagi setiap supir angkot di kota ini, angkot yang saya tumpangi melaju sesaui jalur yang telah ditentukan.

Ada beberapa perempatan lampu merah (kalau tidak salah, ada lima) yang harus dilewati pada jalur angkot yang saya tumpangi. Pada lampu merah yang ke-4, ketika angkot berhenti menunggu lampu hijau, tiba-tiba saya dikejutkan oleh penampilan seorang remaja yang kebetulan ikut memunpang. Ia berpenampilan luar biasa ekstrim dan mencolok menurut ukuran saya, hingga saya tertarik memusatkan perhatian kepadanya selama kira-kira tiga puluh menit, dan selanjutnya kami sama-sama turun dari angkot karena kerena telah sampai pada tujuan, dan kebetulan lagi, tujuannya kami sama.

Selama kurang lebih tiga puluh menit saya benar-benar asyik mengamati si adik “nyetrik” ini dan menghubungkan penampilannya dengan sedikit pengetahuan yang ada di kepala saya. Perkiraan saya, anak ini berumur antara 17 atau 18 tahun dilihat dari penampilan fisiknya, hingga kita bisa sedikit menetapkan istilah baginya yaitu “remaja”. Anak ini berperawakan sedang, tidak tinggi dan tidak pendek, berkulit kuning langsat dan cenderung agak kumal dan awut-awutan. Dia mengenakan celana “jeans” warna biru yang agak ketat, dan kaos oblong warna hitam. Diskripsi penampilan yang baru saja digambarkan itu belum merupakan bagian yang menarik perhatian, tapi bagain aksesoris yang dia pakai di badannyalah hal yang sangat “super” menarik perhatian saya. Dia mengenakan semacam cincin dan ada juga semacam bola kecil,  entah apalah namanya, saya kurang tahu, yang jelas benda itu ditusukkan (hingga mencantel, persis seperti anting pada telinga) ke bagian tubuhnya yang paling pertama terlihat ketika orang bertemu dengannya, yaitu bagian muka. Posisi dekorasi yang dia sematkan pada mukanya; satu di hidung, satu di alis kanan, dua di teling (keduanya di telinga kanan), dan satu lagi di lidah, yang terakhir ini yang paling mencengangkan saya. Aksesoris di lidah ini terlihat ketika ia berbicara di telpon genggam miliknya karena ada seseorang menghubunginya.

Sebenarnya melihat yang sebangsa ini, bukan kali pertama bagi saya. Beberapa bulan sebelum kejadian ini, di dekat tempat tinggal saya, digelar acara sekelompok anak muda yang yang lumayan heboh. Mereka menyewa sebuah gedung olah raga dan melakukan semacam rapat kerja sambil menggelar pentas hiburan. Nah ini lebih heboh lagi (he..he). Penampilan anak-anak yang menggelar acara ini semuanya hampir sama dengan anak yang bertemu dengan saya di angkutan umum itu, malah lebih terksesan ekstrim dengan berbagai dekorasi di badan mereka. Lagu-lagu yang mereka bawakan di pentaspun hampir mirip ocehan yang tak jelas. Celakanya lagu tidak jelas seperti itu dikatan bagus dan kreatif oleh sang pembawa acara.

Sepulang dari pertemuan dengan si adik “nyentrik” di angkutan umum yang diceritakan di atas, saya semakin penasaran dengan fenomena anak muda yang semacam ini. Lantaran rasa penasaran yang lumayan besar, saya langsung berusaha mencari referensi-referensi yang berhubungan dengan fenomena tersebut. Selain melakukan browsing di internet, saya juga membuka-buka buku tentang perkembangan remaja. Dari hasil “mengubek-ubek” referensi tadi, kebanyakan bahasan yang ditemui tentang ini hampir semuanya bernada negatif. Ini cukup mengejutkan. Sepatutnya dipertanyakan kenapa banyak yang mau berpenampilan seperti ini jika sebagian besar sumber mengatakan bahwa ini tidak bermanfaat, negatif, bahkan dituding sebagai simbol dari subkultur dari sebuah komunitas. Cukup mengherankan bukan?

Kebiasan melubangi bagian tubuh dan diberi ornamen ini dalam istilah kita disebut menindik. Di kalangan anak muda di sebut tindik tubuh bahkan fenomena ini sudah diberi label seni menindik tubuh. Di masyarakat Barat, seni ini disebut body piercing. Sebenarnya tindik-menindik tubuh ini sudah ada sejak jaman dahulu. Menurut sejarahnya, tindik sudah dikenal sejak 3000 SM yang terdapat pada mumi tertua, Otzi The Iceman. Mumi ini memiliki lubang pada telinganya yang berdiameter 7-11mm. Sejarah juga mengindikasikan bahwa fenomena ini juga terjadi di zaman Romawi (abad 400 hingga 200 M). Sedangkan di Negara kita sendiri, ini bisa dilihat dari keseharian suku Dayak di Kalimantan hingga saat ini.

Orientasi dan motivasi menindik tubuh bermacam-macam, dan telah terjadi pergeseran dari masa awal hingga sekarang. Awalnya, zaman dahulu orientasi menindik tubuh hanya terbatas pada unsur spiritual, status sosial atau ritual-ritual tertentu. Zaman dahulu kala di Mesir, tindik di pusar menjadi ritual; Tentara Romawi menindik putingnya untuk menunjukkan kejantanan; suku Maya menindik lidah sebagai ritual spiritual; dan anggota kerajaan Victoria dahulu memilih menindik puting dan alat genitalnya. Saat ini, orientasi ini cenderung berubah seiring perubahan zaman. Menurut banyak sumber, orientasi dan motivasi menindik sekarang diantaranya adalah; penasaran, demi seni, meneruskan tradisi nenek moyang, supaya dikatakan “keren” atau “cool”, trend, serta tuntutan komunitas. Bahkan ada juga yang menindik tubuhnya dengan argumen yang sangat tidak masuk akal, yaitu senang menyakiti diri (hii, seram).

Pada zaman modern ini, budaya tindik diprovokasi oleh semangat penolakan dan pembangkangan terhadap norma sosial, hingga terbentuk image anti-sosial. Pada tahun 2003, Tempo Online merilis tulisan tentang pengakuan seorang pemuda pemilik tempat tindik tubuh di Jawa Barat. Pemuda ini sendiri nyata-nyata menindik tubuhnya di berbagai bagaian; teling, hidung, bibir dan juga dan lain-lain. Menurut pengakuannya, dia tidak percaya dengan agama dan ikatan keluarga. Dia pun dengan bangga mengatakan “”Saya ingin mengubah dunia, yang dimulai dari diri sendiri dan membangkang dari keluarga”. Perkataan ini dilatarbelakangi oleh larangan orang tuanya ketika ia akan menindik bagian tubuhnya yang pertama, hingga dia melarikan diri dari rumah. Inilah salah satu contoh motivasi menindik tubuh di zaman sekarang.

Menindik tubuh bisa dilakukan dengan banyak cara dan bisa dilakukan di bayak tempat. Bahkan sudah banyak penindik-penindik professional yang konon benar-benar menempuh pendidikan formal body piercing di luar negeri. Biasanya tempat menindik tubuh ini satu paket dengan tempat membuat tato. Tempat-tempat seperti ini sudah kian mudah dijumpai di tempat-tempat umum, bahkan di Mall pun sudah bisa dijumpai. Secara umum ada empat cara menindik; cara tradisional, cara medis, metode cannula, dan menggunakan senapan tindik. Cara tradisional sama dengan cara dulu yang dilakukan oleh nenek moyang kita. Seseorang yang ingin menindik tubuhnya  menggunakan alat yang tajam, seperti jarum. Lalu dipanaskan dan ditusukkan ke bagian tubuh yang ingn ditindik (biasanya telinga). Secara medis, penindikan menggunakan jarum khusus untuk melubangi bagian tubuh yang ingin ditindik. Biasanya tenaga medis mencari rongga kosong diantara fistula, keadaan abnormal suatu jaringan yang diantara dua epithelium (jaringan kulit). Juga dilakukan oleh tenaga medis, metode cannula biasanya memasukkan sejenis tabung ke bagian tubuh yang akan ditindik, cara kerjanya mirip seperti chateter. Cara terakhir yaitu menggunakan senapan tindik. Ada alat khusus seperti senapan pada umumnya, tapi digunakan untuk menindik. Biasanya penindik sudah melengkapinya dengan satu perhiasan kecil diujung jarumnya. Sehingga begitu jarum menyentuh bagian tubuh yang ingin ditindik, seketika itu pula perhiasan itu menempel di tubuh.

Dilihat dari proses penindikannya ini, kalau ditanya yang sakit apa tidak, rasanya tak perlu ditanya lagi, pastilah sakit. Selain itu, banyak sekali sumber menyebutkan bahwa proses tindik ini sangat beresiko, terutama pada sisi medis. Diantaranya seperti yang dikutip dari Media Indonesia.com di bawah ini:

  1. Penyakit menular lewat darah (blood borne diseases), seperti hepatitis B dan C, tetanus, serta HIV.
  2. Reaksi alergi. Bahan tindikan dari nikel atau kuningan dapat menyebabkan reaksi alergi.
  3. Penyakit mulut dan merusak gigi hingga gusi bengkak karena infeksi.
  4. Guratan dan keloid, akibat pertumbuhan berlebih jaringan parut, seperti bekas luka.
  5. Kanker.
  6. Trauma tindik, seperti robek karena kecelakaan. Kadang memerlukan pembedahan atau jahitan yang bisa meninggalkan bekas luka atau cacat permanen.
  7. Menyebabkan gangguan pada otak.

Resiko-resiko ini bukan isapan jempol belaka. Banyak contoh kasus telah terjadi, misalnya akibat menindik lidah. Berdasarkan berita dari The Sun, seorang wanita di Caerphilly baru-baru ini meninggal karena keracunan darah, dua hari setelah melakukan tindik lidah. Jurnal Archives of Neurology seperti dilansir BBC melaporkan, seorang pria 22 tahun meninggal di rumah sakit setelah mengalami abses otak atau penumpukan nanah di otak, ini juga karena reaksi setelah menindik lidah. Bahkan sebuah penelitan di Australia pada tahun 2006 mengatakan bahwa hampir semua penindik di Adelaide (Australia) pernah menangani kasus alergi setelah klien ditindik; rata-rata setiap pendindik menangani lebih dari 31 orang yang terkena kasus seperti ini. Setelah melihat fakta-fakta ini tentu makin mengherankan kenapa banyak yang mau menindik anggota badannya. Lebih mengherankan lagi, sebagian besar penggandrung tindik ini adalah para remaja. Apakah resiko-resiko seperti tertulis di atas sepadan dengan dalih untuk mengekspresikan diri, hak azasi, tuntutan komunitas, demi trend, supaya dikatakan cool dan sebagainya? Rasanya jauh dari sepadan.

Sekarang kita ulas sedikit alasan kenapa para remaja banyak yang menyukai tindik ini. sebagaimana kita ketahui, usia remaja ini merupakan usia transisi menuju kedewasaan. Usia ini adalah usia dimana manusia benar-benar dalam masa perkembangan yang penuh kebimbangan. Usia remaja tak ubahnya seperti bahtera yang diterpa gelombang di tengah laut yang baru dilayarinya. Masa dimana manusia mengalami transisi baik secara fisiologis/fisik maupun psikologis. Perkembangan fisiologis diantarnya ditandai dengan mulai mimpi basah (laki-laki) atau menstruasi (perempuan), perubahan otot dan suara, dan perkembangan gerak motorik tertentu. Perkembangan psikologis biasanya diikuti oleh perkembangan pemikiran, perasaan, penalaran, dan emosional yang kian kompleks. Perkembangan yang ke-dua ini, perkembangan psikologis, membuat remaja cenderung mengisolasi diri, gelisah, murung dan menentang. Hingga identitas mereka bisa dilihat dari kecenderungan mereka seperti; kurang peduli dengan lingkungan, sering melakukan penentangan, emosi tidak stabil, mudah tersinggung, menghindari tanggung jawab, dan kurang menghargai aturan. Kesemuanya ini menggambarkan kegamanagan mereka. Ini semua proses yang harus mereka alami dalam rangka perubahan status sosial dari kanak-kanak menuju dewasa. Dengan kata lain, mereka sedang mengembangkan identitas tertentu untuk dirinya. Jadi perlu difahami bahwa remaja sedang mengalami krisis identitas sehingga mudah sekali terinfeksi bermacam-macam isu, baik yang positif, maupun yang negatif.

Tugas penting seorang remaja dalam mengembangkan identitiasnya adalah membuat konsep tentang siapa dia, apa yang dia kerjakan, dan kemana dia pergi. Dalam usahanya menemukan konsep ini, remaja membuat standar sendiri dan mengevaluasinya dengan perilaku orang lain. Kemudian ia akan menghormati dan mengadopsi konsep yang ia temukan. Jika ia gagal menemukan konsep ini, maka akan terjadi kebimbangan lantaran gagal menemukan siapa dirinya dan posisinya akan sangat tidak pasti. Ini juga akan mendorong frustasi yang berat. Sebagaimana kita ketahui, standar moral dan nilai-nilai yang diadopsi oleh remaja sebagian besar berasal dari keluarga, terutama orang tua dan juga lingkungan. Lingkungan ini luas sekali cakupannya, bisa lingkungan sekolah, tetangga dan lain-lain. Ini semua yang kelak akan menjadi bagian dari identitas mereka.

Poin penting yang perlu kita garis bawahi tentang usia remaja adalah “krisis identitas” dan “proses pencarian jati diri”. Jika kita kaitkan dengan keheranan kita di atas, tentang gandrungnya para remaja melakukan tindik tubuh, maka cukup beralasan jika kita katakan wajar jika “sepertinya” suka. Walaupun tak sepenuhnya benar kegandrungan ini diartikan dengan kata “suka”. Dalam proses pencarian diri, mereka sangat membutuhkan bimbingan, arahan dan juga nilai-nilai sosial yang baik untuk diadopsi. Nah di sinilah titik temu antar remaja dan tindik. Remaja yang gandrung bertindik ini, kemungkinan besar adalah remaja yang tersesat dalam pencarian jati dirinya. Mungkin pada saat mereka menjalani masa transisi yang sangat labil ini, tidak mendapatkan perhatian maksimal dari orang tua mereka, hingga standar yang mereka butuhkan didapatkan dari sumber lain yang mungkin saja bukan berupa nilai-nilai sosial yang ideal, seperti seni tindik tubuh ini.

Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah peran orang tua sangat penting dalam perkembangan remaja dengan memberikan perhatian, menyediakan standar sosial yang ideal dan juga arahan yang bisa diterima dengan baik oleh remaja. Dengan demikian diharapkan remaja tak akan mengadopsi hal-hal negatif yang pada akhirnya nanti berkonstribusi pada pembentukan karakter mereka. Dapat kita bayangkan betapa meruginya mereka jika terlanjur melubangi telinga (remaja laki-laki), hidung, alis, bibir, lidah atau bahkan organ vital. Semua akses yang ditimbulkan dari tindik ini tak ada yang positif, terutama dari sisi medis. Berbagai resiko penyakit siap menyerang. Belum lagi jika mereka nanti mencari pekerjaan di masa depan; para pengguna jasa akan sungkan menerima pekerja yang berpenampilan kurang wajar. Disney Land yang terkenal secara internasional sebagai tempat hiburanpun tidak menerima pegawai yang tidak berpenampilan wajar, termasuk yang bertindik atau bertato.

References;

  1. Majalah Tempo Online
  2. Tempointeraktif.com
  3. Detik.com
  4. Healthy Body Art, Body Piercing Infection and Injury Research Report Southern Primary Health – Noarlunga October 2006
  5. EB Surbakti, Kenakalan Orang Tua Penyebab kenakalan Remaja. Elex Media Computindo. 2008

Yupi, March 08, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: