Korupsi Apaan Sih?

Istilah korupsi sedang booming (baca: terkenal) di negeri kita yang kian hiruk pikuk ini. Saking terkenalnya istilah ini, sampai-sampai si Dila kecilpun ikut latah mengatakan bahwa kakaknya melakukan korupsi ketika kakaknya “menilep” permen bagainnya yang dititipkan oleh sang Mama kepada kakaknya. Kalau anak kecil saja sudah sangat akrab dengan istilah ini, jelas orang dewasa lebih akrab lagi. Namun demikian, familiaritas istilah korupsi di tengah masyarakat kita sepertinya belum menjamin adanya pemahaman yang mendalam terhadap makna korupsi. Ini dibuktikan dengan mudahnya orang mengatakan orang lain melakukan tindakan korupsi tanpa disertai bukti yang jelas. Salah satu penyebabnya adalah budaya kita yang kurang mau menilik secara detil makna dari suatu kata atau istilah. Situasi ini cukup riskan, karena orang akan cenderung mengatakan sesuatu cuma dengan dasar “kira-kira” saja. Tak jarang orang dengan mudahnya menuding seseorang melakukan tindakan korupsi. Dalam tulisan singkat ini, kita akan menilik sedikit tentang apa sebenarnya korupsi dan apa saja akibat yang ditimbulkan oleh korupsi. Maka dengan mempunyai pengetahuan yang benar tentang korupsi, maka diharapkan agar orang berhati-hati dalam menggunakan istilah korupsi ini.

Kata korupsi berasal dari bahasa Latin, corruptio. Kata ini mempunyai kata kerja corrumpe yang berarti busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, atau menyogok. Sebenarnya kata corruptio ini sudah terserap ke dalam bahasa Indonesia yaitu korup, yang berarti sama dengan bahasa latin tadi; buruk; rusak; atau busuk. Menurut Transparency International, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan ilegal memperkaya diri sendiri atau memperkaya mereka yang dekat denga dirinya, dengan cara menyalah gunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Sedangkan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi adalah perbuatan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan sendiri (seperti menggelapkan uang atau menerima uang sogok). Jadi jelas, antara asal kata korupsi dan serapannya di dalam bahasa Indonesia bersesuaian satu sama lainnya.

Kita baru saja menelaah korupsi dari sisi bahasa dan istilah. Sementara bisa kita simpulkan bahwa secara umum, korupsi itu merupakan tindakan yang merugikan pihak tertentu selain si pelaku tindakan kourupsi. Karena tindakan ini erat hubungannya dengan hak-hak orang lain, maka jelas tidak bisa terlepas dari ranah hukum. Nah, supaya pelaku korupsi ini bisa diseret ke meja hijau, maka diperlukan perangkat hukum yang mengakomodasinya. Korupsi menurut hukum kita (Indonesia) penjelasannya cukup gamblang dalam 13 pasal UU no. 31. Th. 1999. Jo. UU no. 21 Th. 2001. Menurut UU itu ada 30 jenis tindakan yang bisa digolongkan pada tindak korupsi. Tindakan-tindakan itu secara garis besar bisa dikelompokkan dalam 7 kelompok besar, yaitu; kerugian keuntungan Negara; suap-menyuap (istilah lainnya adalah sogok-menyogok atau pelicin); penggelapan dalam jabatan; pemerasan; perbuatan curang; benturan kepentingan dalam pengadaan; dan gratifikasi (istilah lainnya adalah pemberian hadiah).

Jika kita renungi 7 tindakan yang digolongkan dalam korupsi ini, dilihat dari sudut manapun, jelas tindakan-tindakan ini sangat berbahaya dan sangat salah. Salah karena merugikan Negara dan juga orang lain. Setidaknya ada 5 akses negatif yang akan ditimbulkan oleh korupsi; (1). Penegakkan hukum dan layanan masyarakat menjadi tak menentu; (2). pembangunan fisik terbengkalai; (3). prestasi menjadi hal yang tidak ada artinya; (4). jalannya demokrasi akan terganngu; dan (5). tatanan ekonomi akan hancur.

Anda pernah mengurus SIM? Ini contoh yang bagus bahwa penegakkan hukum dan layanan masyarakat sudah tidak pada jalurnya lagi. Semua bisa selesai dengan instan, asal anda sedia sejumlah uang yang dikehendaki oleh oknum yang melakukan praktik korupsi, maka sejumlah tes yang mestinya dilakukan pada saat membuat SIM akan dilewatkan, dan berseliweranlah pengemudi-pengemudi yang tak faham cara mengemudi yang benar di jalan raya. Anda sering bingung kenapa banyak jalan rusak, bahkan kadang-kadang ditengah daerah perkotaan? Inilah akibat dari “penggorokan” dana proyek yang seharusnya memadai untuk membangun jalan yang berkualitas baik dan tidak berlubang jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. Jelas dalam hal ini pembangunan fisik telah terganggu oleh praktik “penggorokan” dana proyek ini.

Pernakah anda mengamati orang-orang yang duduk pada jabatan penting yang seharusnya pintar dan memang kompeten untuk jabatan bersangkutan? Tapi kenyataannya berbeda total dari yang diharapkan. Tak jarang kita melihat seseorang yang tak tahu apa-apa dalam tugasnya. Inilah contoh dari prestasi yang tidak ada nilainya lagi lantaran korupsi. Kenapa seorang kepala daerah tetap saja mendahulukan kepentingan pribadi dan golongannya ketika sedang menjabat? Padahal, sebagai pemimpin ia harus membela kepentingan orang-orang yang ia pimpin. Inilah contoh yang sangat mencolok mata kita sekarang ini bahwa proses jalannya demokrasi sudah tidak pada jalur yang benar lantaran praktik korupsi. Bahkan terkadang proses menjadi pemimpin itu pun tak lupa menyertakan praktik korupsi, maka tak heran jika proses selanjutnya akan penuh dengan korupsi-korupsi selanjutnya.

Pernahkah anda terlibat dalam proses pendirian suatu usaha, katakanlah suatu pabrik? Jika pernah, maka anda akan tahu sendiri bagaimana susah dan berbelit-belitnya menjalani proses ini. Seseorang akan dihadapkan dengan dua kata kunci yang sangat mengganggu yaitu tidak efisien. Orang yang berniat mendirikan usaha ini tak jarang harus menyuap sana-sini supaya urusannya selesai, maka membengkaklah modal pendirian usaha tersebut. Membuka usaha dengan modal kecil, akan lebih cepat kalah dengan orang-orang yang bermodal besar dan dekat dengan pemegang kekuasaan. Jadi tidak heran bila orang asing mulai merasa malas berinvestasi di Negara tercinta kita ini. Maka bukanlah hal yang mengherankan pula jika akhirnya ekonomi menjadi hancur, mencari pekerjaan menjadi susah, yang berakhir pada susahnya untuk bertahan hidup.

Dengan melihat paparan singkat di atas, maka bisa kita simpulkan bahwa mengatakan seseorang melakukan tindakan korupsi haruslah dengan bukti-bukti yang kuat berdasarkan dasar-dasar hukum yang ada. Artinya lagi, kita tidak bisa mengatakan begitu saja bahwa si A melakukan korupsi jika belum ada bukti, tapi katakanlah si A “diduga” melakukan korupsi karena ada indikasi yang mengarah ke tindakan korupsi. Sehingga dibutuhkan pembuktian melalui proses hukum yang berlaku di Negara kita bahwa ia benar-benar telah melakuka korupsi yang menyebabkan terjadinya salah satu akibat dari tindakan korupsi yang ada 5 di atas. jika sudah terbukti maka baru bisa kita katakana bahwa si A melakukan korupsi.

Setelah sedikit berbicara panjang lebar seputar korupsi dan akibatnya, kita kembali pada kasus anak kecil yang “menilep” permen yang bukan haknya di atas itu. Nah kira-kira itu korupsi bukan ya? Jadi jawabannya adalah “anak itu sudah melakukan tindakan cikal bakal korupsi”. Kenapa kita sebut cikal bakal? Karena akibatnya belum separah dan segawat tindakan korupsi yang kita bicarakan di atas. Tetapi ingat, anak itu harus segera diterapi sedemikian rupa supaya pada saat dia dewasa nanti, terlepas akan menjadi apapun dia, tidak akan mengembangkan tindakannya “menilep” permen menjadi tindakan korupsi yang berakibat lebih fatal dan merugikan orang banyak, bahkan Negara.

Note: tulisan ini didasarkan pada buku kecil, sangat kecil, yang saya dapatkan ketika berjalan-jalan di sebuah mall di suatu kota, kebetulan ada sebuah LSM yang sedangkan membagi-bagikan buku kecil ini. buku kecil ini disusun oleh KPK dengan judul; “Pahami Dulu, Baru Lawan !: Buku Panduan Kamu Ngelawan Korupsi”

Yupi, 1 March, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: