Hidup, Masa Hidup dan Akhir Hidup

Hidup manusia tak bisa lepas dari yang namanya waktu, tapi celakanya, manusia malah kadang lupa esensi dari waktu dan dirinya. Waktu serasa begitu saja berlalu. Hari demi hari berjalan dengan cepat. Senin, selasa, rabu, seolah tak terasa. Tanpa sadar diantara kita telah melampaui separuh jalan, sepertiga jalan, dan bahkan di ujung jalan. Masa kanak-kanak seolah sekejap, masa remaja seolah semenit, dan masa dewasa telah menjelang renta pula. Tanpa terasa, kulit mulai keriput, mata mulai kurang jelas melihat, makan pun mulai tak terasa nikmat lagi.

Timbul pertanyaan; “Apakah waktu mempercepat dirinya? Apa sebenarnya yang membuat waktu terasa berlalu begitu cepat? Mengapa manusia seringkali lupa dengan esensi dirinya? Jawaban pertanyaan pertama pastilah “tidak”, waktu tidak pernah mempercepat dirinya. Ilmuan psikologi di dunia barat mengatakan bahwa sebenarnya manusia teralihkan perhatiannya oleh aktivitas, hingga waktu terasa lebih cepat karena manusia terlalu sibuk dengan aktivitasnya. Rasanya tidaklah berlebihan jika kita katakan bahwa inilah yang seringkali menyebabkan manusia lupa akan esensi dirinya hadir di dunia. Inilah jawaban dua pertanyaan terakhir.

Jika melongok Kamus Besar Bahasa Indonesia, waktu merupakan suatu entri yang mempunyai arti; “seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung”. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/ kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Dari sini jelaslah kiranya, bahwa di dalam waktu itu sendiri ada unsur “keadaan atau kejadian”, di sinilah terjadinya pengalihan perhatian manusia berupa aktivitas-aktivitas yang tak ada habisnya.

Manusia mempunyai kepala masing-masing dengan isi masing-masing pula. Syahdan, perbedaan pandangan, orientasi, dan tujuan hidup manusia tak bisa dihindari pula. Ini juga akan berujung pada persoalan bagaimana seseorang si empunya kepala menentukan akan seperti apa dia mengisi waktu hidupnya. Maka sungguh benarlah ungakapan-ungkapan tentang waktu yang dibiarkan fleksibel tanpa menyebutkan bagi si “Anu” harus menggunakan waktunya seperti “A”, atau si “B” harus menggunakan waktunya seperti “B”. Ungkapan-ungkapan yang dimaksud seperti; “Waktu adalah pedang, jika kamu tidak bisa memotongnya, maka ia yang akan memotongmu” dan Men talk of killing time, while time quietly kills them”.

Einstein menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya dengan rumus-rumus Fisika yang memusingkan sebagian orang, tapi tidak baginya. Michael Jackson, menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya dengan menggoyangkan badan seraya bernyanyi melengking dari panggung ke panggung, dan itu sangat menyenangkan baginya. Hitler menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya dengan perburuan terhadap suatu ras manusia yang dianggapnya hina, dan itupun menyenangkan baginya. Paling tidak, inilah cara menghabiskan waktu bagi orang-orang ini yang tercatat dan diketahui dunia. Begitu seterusnya jika ditilik cara manusia menghabiskan waktu hidupnya. Semua yang disebutkan ini sudah selesai waktunya, buku mereka telah ditutup, diletakkan di perpustakaan-perpustakaan dunia.

“Saya”, “Anda”, “Dia”, “Mereka” dan “Kalian” yang masih mempunyai waktu, semuanya berhak memilih kegiatan terbaik menurut masing-masing “kepala” yang akan dilakukan untuk mengisi waktu dalam hidup ini. Einstein, MJ, dan Hitler telah menentukan pilihan mereka. Sekarang, tinggal giliran “Saya”, “Anda”, “Dia”, “Mereka” dan “Kalian”. Dalam mengisi waktu hidup bagi saya, yang terpenting adalah “Saya hanya ingin bisa berdoa dengan dengan wajah sumringah, bernar-binar penuh kegembiraan” setiap saat. Dan yang paling saya takuti adalah “Menjadi seorang tua renta yang di akhir hidupnya, berdoa kepada Tuhan dengan rasa penyesalan, rintihan dan kesedihan lantaran waktu berbuat yang terbaik untuk Tuhannya sudah terlambat”.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

1. Demi masa, 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. 3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S; Al ‘Ashr; 1-3)

Yupi, Feb 25, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: