SUPAYA BELAJAR BAHASA INGGRIS TIDAK TERASA BERAT

Oleh: Yupika Maryansyah

Saya mungkin termasuk orang yang berpandangan bahwa belajar bahasa inggris itu biasa- biasa saja. Awal perkenalan saya dengan bahasa inggris dimulai sebelum saya masuk ke Sekolah Dasar. Waktu itu ada paman saya lumayan bisa berbahasa inggris. Saya sering melihat beliau belajar. Saya jadi penasaran dan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana seputar kata-kata dalam bahasa inggris. Misalnya, “Api itu apa bahasa inggrisnya”, Air apa bahasa inggrisnya? dan lain-lain. Pertanyaan-pertanyaan saya dijawab seadanya oleh paman saya itu. Saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti ini hampir setiap kali melihat beliau belajar. Apa yang saya tanyakan lengket di ingatan saya. Sehingga setelah saya menyelesaikan Sekolah Dasar, ketika saya masuk ke sebuah pesantren, dimana siswanya diasramakan dan menggunakan bahasa inggris dan arab dalam berkomunikasi sehari-hari, saya sudah bisa memperkenalkan diri dan berbincang sedikit-sedikit dengan pengurus asrama dalam bahasa inggris, walaupun belum kenal dengan grammar, spelling apalagi pronunciation.

Dari awal berkenalan dengan bahasa inggris (sebelum memulai Sekolah Dasar) hingga sekarang sebagai seorang pengajar bahasa inggris, saya merasa cara belajar bahasa inggris saya tidak begitu ngotot, dan juga tidak juga terasa berat. Saya punya formula yang yang sedikit unik. Secara umum, saya menyelipkan proses belajar dalam aktifitas sehari-hari. Di samping itu, saya juga suka menghubungkan sesuatu dengan hal lain, dengan demikian saya sering melakukan beberapa proses dalan satu waktu. Misalnya, ketika saya pergi ke suatu tempat, saya melihat ada tulisan dalam bahasa inggris “leisure” pada baju orang yang melintas di depan saya dan saya belum tahu artinya dalam bahasa Indonesia, maka saya akan mengingatnya hingga pulang ke rumah. Setibanya di rumah, saya akan melihat kamus untuk mencari tahu apa arti kata tersebut di atas. Selanjutnya saya akan mempraktikkan kata tersebut dalam kalimat. Artinya terjadi proses mengingat tulisan “leisure” sampai saya membuka kamus, dan praktik bahasa ketika saya sudah mengetahui makna kata bersangkutan. Saya merasakan proses seperti ini bagus untuk menempatkan suatu kata pada memori jangka panjang saya.

Saya juga sekali-sekali pergi nonton ke bioskop. Ketika menonton film yang berbahasa inggris, saya sering memadu padankan apa yang diucapkan pelakon di dalam film dengan teks bahasa Indonesia yang ada di bawahnya. Hal ini bukan hanya saya lakukan di bioskop, tapi juga ketika menonton film, film seri, ataupun kartun di televisi di rumah. Saking senangnya nonton kartun di rumah, sampai-sampai saya masih hafal semboyan film kartun Tarzan tahun 87an, “king of the jungle”. Hal semacam ini saya lakukan selama belum mempunyai laptop atau komputer sendiri di rumah. Ketika sudah mempunyai komputer sendiri, saya sering meminta file film yang berbahasa inggris dengan teman-teman, atau mengunggah sendiri dari internet. Menonton dengan cara begini lebih enak lagi, saya bisa mematikan teks (subtitle) Indonesia yang ada dibawah layar dan mencoba memahami cerita dengan hanya mendengarkan dialog dalam film itu. Belajar dengan cara begini juga saya lakukan dengan lagu-lagu berbahasa inggris.

Dialog-dialog yang didapatkan dari dari film sering saya praktikkan di depan cermin kamar mandi sambil menyisir rambut. Memang sekilas seperti orang yang kurang waras, tapi bagi saya ini menyenangkan. Jika sudah begini, saya tak tanggung-tanggung, bukan hanya dialog yang saya ikuti, tapi intonasi dan mimik ketika bicara juga saya tiru. Memang sekilas tampak seperti orang gila. Aksen dari dialog juga saya perhatikan, apakan aksen British atau American. Film Harry Potter menjadi rujukan saya untuk British English, sedangkan untuk American English, saya suka film-film yang dibintangi oleh Brad Pitt dan Jhoni Deep karena kedua tokoh ini sangat pandai berganti-ganti aksen tergantung peran yang mereka mainkan. Dalam proses ini, tanpa disadari saya mempelajari Listening,Reading, Speaking dan juga Pronunciation.

Untuk Writing, saya merasa lebih banyak saya dapatkan di bangku kuliah, karena banyak membuat tugas kuliah yang sebagian besar tulisan-tulisan ilmiah. Tetapi tetap saja ada yang unik dalam belajar menulis ini. Saya sering menghafalkan tulisan suatu kata dalam imajinasi saya. Artinya hanya khayalan saya saja yang menulis, tetapi tangan saya tidak mengerjakan apa-apa. Ini sering saya lakukan ketika baru mengenal suatu kata tertentu. Saya betul-betul menyadari bahwa kalimat akan terbentuk mulai dari susunan huruf-huruf, dari huruf menjadi kata, dari kata menjadi prase atau klausa, disatukan dan barulah menjadi kalimat. Makanya saya piker saya perlu banyak hafal tulisan kata-kata sebelum menulis paragaraf, bahkan suatu teks.

Dalam hal belajar bahasa inggris di dalam kelas, bagi saya merupakan wadah untuk mendapatkan guidline yang umum-umum saja. Dan ada satu hal lagi yang penting, di dalam kelas adalah tempat menyatukan dan menghubungkan apa yang saya dapat di luar kelas. Betapa banyak hal yang saya dapatkan dari luar kelas yang telah terbukti bisa menunjang belajar saya di dalam kelas. Namun kalau boleh saya kuantitatifkan bobotnya, saya berani mengakatakan bahwa yang saya dapatkan di luar kelas jauh lebih banyak daripada apa yang saya dapat dari dalam kelas.

Saya tidak memprioritaskan skill apa yang saya pelajari terlebih dahulu, atau komponen apa yang mesti dipelajari terlebih dahulu. Dalam teori, ada yang menyatakan bahwa mempelajari vocabulary terlebih dahulu lebih baik, ada juga yang menyatakan bahwa skill seperti speaking bagus untuk dipelajari terlebih dahulu. Bagi saya semua itu kembali pada tipe cara belajar orang per orang.

Menurut hemat saya, ada beberapah hal yang mungkin perlu diperhatikan supaya proses belajar bahasa inggris ini tidak terasa berat. Pertama, tanamkan motivasi dan persepsi yang positif terhadap bahasa inggris yang akan melahirkan ketertarikan. Ini akan membangun semangat pantang menyerah ketika menemui kendala dan tantangan dalam belajar. Kedua, sadari betul bahwa proses belajar bahasa inggris itu bukanlah proses instan yang bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Sama halnya dengan kita belajar bahasa Indonesia. Sampai sekarangpun bahasa Indonesia kita belum tentu bagus karena nyatanya masih ada kata tertentu yang belum kita ketahui maknanya dan masih banyak kaidah bahasa Indonesia yang benar yang belum kita praktikkan. Cobalah menyelipkan proses belajar dalam kehidupan sehari-hari, dengan demikian kita akan terus belajar dan tidak mesti bergantung dengan apa yang diajarkan di kelas saja, dan tanpa kita sadari, dengan berjalannya waktu kita akan mendapat banyak. Asalkan keinginan untuk belajar selalu diaktifkan karena sesungguhnya apa yang kita lihat dan temui sehari-hari bisa dijadikan sarana belajar dengan cara menghubung-hubungkannya dengan bahasa inggris. Dan terakhir, apa yang sudah kita dapatkan baik dari dalam kelas maupun luar kelas perlu dijaga eksistensinya di memori kita dengan cara mengulang-ulang dan sering melakukan flash back. Ketika kita bertemu sesuatu yang telah lama kita pelajari, maka sedapat mungkin kembalikan memori kepada hal-hal yang berhubungan dengan apa yang kita pelajari dahulu, atau hal-hal yang yang terjadi ketika kita mempelajari sesuatu tersebut.

Bengkulu, 6 April 2012

Tidak Memahami Pesan Khutbah Jumat, Berarti Ikut Menghancurkan Negara

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh kondisi jemaah shalat jumat ketika khutbah sedang dilangsungkan. Sungguh menyedihkan sekali jika mengamati penampilan jemaah ketika khutbah jumat sedang dilangsungkan di atas mimbar. Kita akan melihat ada yang mengantuk, ada yang melamun, ada yang memain-mainkan karpet, bahkan ada juga yang jelas-jelas sedang tidur. Yang lebih mengherankan, sepertinya rata-rata masjid situasinya sama dalam hal ini. Jadi dengan kondisi seperti digambarkan ini, apakah mungkin pesan dari khutbah itu bisa diserap dengan sempurna? Mungkin ini over generalisasi, tapi ini juga yang sering penulis jumpai dan kebetulan karena mobilitas agak tinggi, sering berpindah-pindah shalat jumat. Karena dilatarbelakangi oleh pengamatan, maka tulisan ini bisa jadi bersifat spekulatif atau argumentatif, namun tidak terlepas dari unsur ilmiahnya karena akan dikemukakan juga argumen ilmiah di dalamnya.

Setelah membaca judul di atas, mungkin akan timbul pertanyaan-pertanyaan seperti; apa maksud judul di atas? Apa mungkin bisa begitu? bagaimana alur berpikirnya hingga sampai begitu? pertanyaan-pertanyaan ini wajar muncul di benak kita karena hubungan antara dua variabel dalam judul di atas tidak terdapat hubungan langsung seperti halnya “makan” dan “kenyang”. Kemudian keduanya juga berada pada dimensi bahasan yang berbeda; sebagaimana kita ketahui, kehancuran suatu Negara termasuk bahasan ilmu-ilmu sosial, terutama sosiologi dan sebagainya. Sedangkan shalat jumat jelas merupakan bahasan agama. Namun terlepas dari pola keterhubungan dari kedua varibel ini, jika kita mau sedikit memeras pikiran dan menganalisa, keduanya bisa ditautkan pada bahasan yang sinkron dan logis. Bahasan ini akan melibatkan berbagai disiplin, dihubungkan satu dengan yang lainnya. Penulis tidak tau ini cara berpikir seperti apa, apakah khasanah ilmiah mengenali cara berpikir begini atau tidak, tapi yang penulis tahu semuanya logis dan cukup ilmiah karena dilengkapi dengan argumen-argumen yang juga tak diragukan keilmiahannya.

Sebagaimana kita ketahui, dalam shalat jumat ada yang dinamakan khutbah. Jika khutbah ini tidak dilaksanakan, maka tidak sah shalat jumat. Khutbah sebenarnya memilki banyak sekali fungsi, baik bagi muslim secara individu maupun secara sosial kemasyarakatan. Antara lain sebagai berikut:

  1. Memberi pengajaran kepada jamaah mengenai bacaan dalam rukun khotbah, terutama bagi jamaah yang kurang memahami bahasa Arab
  2. Mendorong jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah
  3. Mengajak jamaah untuk selalu berjuang menggiatkan dan membudayakan syariat Islam dalam masyarakat.
  4. Mengajak jamaah untuk selalu berusaha meningkatkan amar ma’ruf dan nahi munkar
  5. Menyampaikan informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan hal-hal yang bersifat aktual kepada jamaah
  6. Merupakan kesempurnaan salat jumat karena salat jumat hanya dua rakaat
  7. Mengingatkan kaum muslim agar lebih meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah
  8. Mengingatkan kaum muslim agar lebih meningkatkan amal shaleh dan lebih memperhatikan yang kurang mampu untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan dalam masyarakat
  9. Mengingatkan kaum muslim agar lebih meningkatkan akhlakul karimah dalam kehidupan pribadi, masyarakat, berbangsa dan bernegara
  10. Mengingatkan kaum muslim agar lebih meningkatkan kemauan untuk menuntut ilmu pengetahuan dan wawasan keagamaan
  11. Mengingatkan kaum muslim agar meningkatklan ukhuwah islamiyah dan membantu sesama muslim
  12. Mengingatkan kaum muslim agar rajin dan giat bekerja untuk mengejar kemajuan dalam mencapai kehidupan dunia dan akhirat yang sempurna
  13. Mengingatkan kaum muslim mengenai ajaran Islam, baik perintah maupun larangan yang terdapat didalamnya.

Ada beberapa benang merah yang perlu kita perhatikan dalam mengaitkan antara shalat jumat dengan kehancuran suatu Negara. Benang merah yang pertama adalah; Jika diamati keseluruhan tujuan-tujuan khutbah jumat di atas, maka bagi yang masih mempunyai pemikiran yang jernih, akan tahu tak ada satupun yang tidak menyeru kepada kebaikan. Kita ambil contoh no. 2. Ini merupakan seruan kebaikan atas semua hal tentang kebaikan manusia, karena orang yang bertaqwa tidak mungkin melakukan hal-hal yang jelek dan tidak terpuji. Poin ini merupakan rukun wajib dalam khutbah jumat, artinya poin yang satu ini pasti disampaikan setiap hari jumat. Kita tidak usah membahas point-point lainnya. Semua sudah jelas baik.

Benang merah yang ke-dua adalah; Tujuan-tujuan khutbah yang baik di atas, tak mungkin dapat dapat difahami oleh jamah jika perhatian jamaah tidak memadai. Seperti apa perhatian yang tidak memadai itu? Tidur, melamun, memain-mainkan karpet, tidak termotivasi, kurang mampu menjadi pendengar aktif, dan sebagainya. Inilah diantara indikasi-indikasi kurangnya perhatian para jamaah. Dalam khasanah ilmiah modern, kemampuan menghubungkan konteks adalah hal yang penting dalam menumbuhkan pemahaman, yang disebut dengan kontekstual learning. Konsep ini dapat diringkas dalam tiga kata; makna, bermakna dan dibermaknakan. Khutbah adalah diskursus pembelajaran secara lisan yang disampaikan oleh sang khatib yang harus difahami maknanya, harus bermakna dan dibermaknakan oleh para jamaah. Inti dari konsep ini adalah kemampuan menghubungkan materi yang disampaikan dengan lingkungan sekitar hingga menumbuhkan pemahaman yang kontekstual. Lalu bagaimana ini bisa terwujud jika jemaah lebih asyik tidur?

Benang merah yang ke-tiga adalah; Isi khutbah yang sangat berguna untuk menciptakan kehidupan yang baik, teratur dan bermanfaat tidak akan bisa diaplikasikan oleh jamaah jika pesan yang disampaikan suatu khutbah tak bisa diterima dengan sempurna oleh jamaah. Bagaimana mungkin seorang bapak menasehati anak-anaknya untuk tidak munafik, jika ia sendiri tidak faham apa itu munafik. Bagaiman mungkin seorang ayah bisa mencontohkan shalat yang sempurna, jika ia sendiri tak faham bagaimana sesungguhnya shalat yang sempurna itu. Sedangkan ini semua kemungkinan besar sudah dibicarakan dalam khutbah jumat yang sudah dihadiri. Coba anda bayangkan jika usia anda sekarang 30 tahun, kira-kira sudah berapa jumat yang anda ikuti? dan diingat-ingat sudahkah topik-topik di atas dibicarakan dalam khutbah yang pernah anda ikuti? saya yakin malah sudah sering diulang-ulang mengingat dalam usia 30 tahun, pastilah sudah banyak sekali jumatan yang sudah anda ikuti, kecuali jika anda tidak pernah, atau jarang shalat jumat.

Azas yang paling perlu diingat bahwa apa-apa yang telah digariskan dalam agama adalah untuk kebaikan pengikutnya itu sendiri, ini tak bisa dibantah. Shalat jumat diwajibkan atas kaum Adam tanpa terkecuali. Alasan logisnya adalah kaum laki-laki adalah pemimpin dalam kelaurga. Dan keluarga adalah elemen terkecil dari masyarakat, yang bermuara pada terbentuknya suatu Negara. Hal ini sejalan dengan teori ketata negaraan yang menyebutkan bahwa keluarga adalah elemen terkecil dari masyarakat. Artinya keluarga yang dikepalai oleh seorang ayah adalah titik sentral gerakan dari bawah (grass root) dari suatu Negara. Di sini kita dapatkan benang merah yang ke-empat antara shalat jumat dan kehancuran Negara. Maka hakikatnya, khutbah jumat ini adalah wadah untuk menempa kepala-kepala keluarga yang pandai hingga mereka piawai mengepalai keluarganya masing-masing. Khutbah jumat merupakan sarana mendidik kepala keluarga supaya mampu mengatur, memenej, dan mengarahkan keluarganya ke arah yang lebih baik. Tapi apa jadinya jika para keluarga ini tidak memperhatikan isi dari khutbah jumat ini, atau malah tidur. Apalagi jika hampir semua masjid yang menyelenggarakan khutbah jumat di Negara ini dihadiri oleh kepala keluarga yang mengantuk ketika khutbah dilangsungkan. Apakah kursus parenting di Negara ini sudah menjamur hingga ada wadah lain menenpa para kepala keluarga ini menuju arah yang lebih baik? Jelas tidak kan. Jika demikian, bukankah Negara juga yang akan hancur, karena para ayah yang merupakan ketua elemen terkecil dari masyarakat yang mengkomposisi Negara ini malah asyik tidur ketika diberi pengarahan. Anda bisa pikirkan sendiri.

Sekarang mari kita coba jalin benang merah-benang merah di atas supaya jelas alur berpikirnya. Sebenarnya sangat simple; Pertama, isi dari khutbah jumat itu merupakan wejangan yang sangat lengkap dan baik jika anda ikuti dari setiap jumat. Mungkin kita bisa katakan hampir semua bahasan dalam agama yang sangat menyentuh tata cara berkehidupan manusia sehari-hari, sudah pernah kita dengarkan di khutbah jumat. Selanjutnya, arahan-arahan yang baik ini perlu diperhatikan dengan baik supaya bisa difahami dan diamalkan dalam kehidupan nyata dan disebarluaskan terutama melalui keluarga masing-masing. Ke-tiga, perlu motivasi, kemampuan mendengarkan dengan aktif, serta ketahanan mendengarkan khutbah supaya pesan bisa diterima dengan baik dan difahami dengan benar. Terakhir, jamaah yang jelas-jelas berasal dari kaum Adam ini adalah para kepala keluarga, calon kepala keluarga dan juga kakeknya kepala keluarga. Masing-masing mempunyai tanggung jawab membimbing keluarganya; kaum Adam yang sedang berstatus suami jelas sedang bertanggung jawab terhadap keluarganya sekarang; yang masih anak-anak, dan remaja akan menjadi kepala di masa datang; para kakek masih bertanggung jawab membimbing dan memantau keluarganya, keluarga anaknya, bahkan keluarga cucunya.

Supaya bertambah jelas, sekarang kita ambil contoh khutbah yang membahas tentang pentingnya menuntut ilmu bagi umat manusia. Bahasan ini sangat esensial diaplikasikan oleh semua rakyat Indonesia. Walaupun penyampaiannya bukan di sekolah, di kampus atau di seminar, tapi ini berlaku umum dan akan sangat baik jika difahami dengan benar. Implikasinya tak aka ada orang bodoh di Negara ini karena semuanya merasa perlu mencari ilmu jika ini difami dan diaplikasikan dengan benar. Tapi apa yang terjadi? Anak-anak tak pernah faham apa yang dimaksud dengan mencari ilmu; Ilmu apa yang perlu didalami terlebih dahulu; Dan bagaimana cara menuntut ilmu yang baik. Kenapa ini terjadi? Jawabannya karena ayah mereka tak pernah menjelaskan konsep ini dengan mereka. Bagaimana mau menjelaskan jika faham saja tidak. Nah sekarang mari kita pikirkan jika mayoritas para ayah di Negara ini tak pernah menjelaskan ini pada anaknya. Maka sangat mungkin anaknya akan menyimpang kesana-kemari memahami konsep ini. pada akhirnya jika generasi muda semuanya sudah rusak, maka Negara juga yang rusak. Dan silahkan dibayangkan sudah berapa banyak topik yang dilewatkan begitu saja oleh para orang tua lantaran tidur ketika khutbah jumat dilangsungkan.

Kesimpulannya, memang khutbah jumat bukan satu-satunya sumber pengetahuan. Namun dengan keindahan agama ini, khutbah jumat menjadi sangat strategis karena terjadi pengulangan-pengulangan bahasan yang dimungkinkan karena khutbah jumat akan terus didengarkan selama manusia masih bernyawa. Berbeda dengan bangku sekolah, universitas, atau seminar, semuanya hanya didapat dalam waktu terbatas dan situsi tertentu saja. Jadi para kaum Adam, sadarilah benar-benar bahwa shalat jumat itu sungguh esensial untuk kehidupan yang sebentar ini. Jangan mau ditipu oleh kantuk yang bisa kita ikuti dengan nyaman ketika kita berada di rumah. Kalau mau tidur di rumah, jangan di mesjid ketika menjadi jamaah shalat jumat. Dengarkanlah khutbah, fahamilah, sampaikanlah isi khutbah kepada anggota keluarga anda dan amalkanlah. Jika sudah demikian, bukan tidak mungkin kehidupan Negara ini akan lebih baik, teratur, indah dan tentram karena kebaikan disebarkan mulai dari elemen terkecil dari Negara ini, yaitu keluarga.

“Jika kamu berkata kepada temanmu pada hari Jum’at, “Diamlah kamu” sementara imam sedang berkhutbah, maka sungguh engkau telah berbuat kesia-siaan”. (Muttafaqun ‘alaihi)

Yupi, Marc, 2011.

Source:

http://hbis.wordpress.com/

Elaine B. Jhonson. 2008. Contextual Teaching & Learning. MLC.

Advantages of Using e-mail in Writing Class

Internet has been used by some language instructors in creative ways; one of creativity is the using of electronic mail (e-mail), as a specific feature of the Internet. E-mail is easy to use, even teachers those are not familiar with computers can quickly become adept in using e-mail with their students. In general, e-mail can encourage students to use computers in realistic, authentic situations in order to develop communicative and thinking skills. Although the Internet has been available to most people, only small amount of educators understand the potential of internet can provide in second and foreign language classrooms. The following short discussion will consider some of these potential advantages of using such technology in writing skill.

Using e-mail in a writing class can be conducted at any kind of network as long as workstations with e-mail software are readily available to the students. This could be in a lab, a campus network, or across the Internet. There are many reasons why using e-mail is advantageous for the students and teachers in the writing class.

At least, there are four advantages of using e-mail for students. First, by using e-mail in writing class, students become familiar with a communication tool that is important to their future need in the 21st century. A thing was once considered a fashion is now becoming a communication tool of many white collar workers in industrialized countries. In the world of business, education, politics, and technology, electronic mail is quickly taking the place of voice, paper, and fax communication. Employers will require this vital skill for their employees of today and tomorrow.

Second, students can use this feature to organize their writing instantly either by topic or by date created, or by name of sender. This kind of organizing helps the students focus more on the tasks of communicating and collaborating with peers and teachers. An added benefit to all this is that it can save natural resources by minimizing the use of expensive paper and toner.

Third advantage is that sometimes, more writing is actually completed when using e-mail. Electronic features on the screen are changeable, more temporary, and less permanent than traditional pen and pencil writing. Students frequently love to have an eraser help in writing. The reason is possible because they think that their writing has to be perfect the first time. They often don’t understand that writing can be a way of thinking; it can actually help them with ideas, with organization, and with their thought processes. Academic writing for instance, involves prewriting, planning, writing and revising draft, and writing the final copy to hand in. Not even the best writers get it right the first time. Since computer-generated writing is much more temporary and less permanent, their writing becomes less static and “final” since it is assumed more changeable, and thus the students learn to assume it as a process.

The last advantage for students is that shy students have a forum for expressing themselves and asking questions. Occasionally, some students who do not like to express themselves in a group tend to do better with writing. Since students usually generate more content electronically than with traditional pen-and-pencil methods, shy students often tend to express their opinions more openly without fear. This can give students self-confidence and improve their writing ability.

As the students get the advantages of using e-mail in writing, teachers also get some. First advantage is that a teacher can interact with a student or a group of students dealing with an assignment conveniently. In this case, the essential interaction and feedback that takes place between a teacher and student (or group of students) related to a writing task is not limited to the limitations of a classroom. Both teacher and student will do their work optimally.

Second, teacher will be able to electronically monitor individual or group writing process from early phase to the final draft. Usually, teachers often receive dozens of papers, assignments, and pieces of correspondence from their students each term. These pieces of paper often get organized on desk, in brief case, in filing cabinet, at home, in the office, in the classroom, and so on. This annoying work style will be eliminated by using e-mail. With the click of a mouse, modern e-mail software allows grouping of messages by student name, by date received, or by assignment classification. Writing assignments received can be organized electronically by any one of these categories. These types of groupings make it easier for the teacher to see the process which their students are using when writing. This process can be monitored and analyzed effectively and logically by the teacher who can also view and organize student or group work easily and efficiently. The teacher can quickly review students’ writing for future analysis and grading.

As the third, using e-mail can also save class time for some assignments. Teachers can send assignments and announcements electronically to the students. For example, if a teacher has to remind the students of a certain assignment due or a particular procedure, the teacher can send one message to entire class members. This can save valuable class time. Moreover, with the return receipt capabilities of e-mail the teacher is able to know whether each individual student has opened and read the message. This is an important feature to help monitor the progress of the student or the group.

In conclusion, by using e-mail, students and teachers become better problem solvers and better communicators. By using e-mail, students can begin to realize their full potential when they are trigged to deal such feature as a tool in completing their writing tasks more effectively. Students have the chance to collaborate and work together with other classmates, colleges, and teachers. On the other hand, by working electronically, teachers can help learners create, analyze, and produce information and ideas more easily and efficiently. In this case, teachers directly make their works easier in teaching and learning process.

References

Singhal, Meena. (1997). The Internet and Foreign Language Education: Benefits and Challenges. The Internet TESL Journal, III (6)

Belisle, Ron. (1996). E-mail Activities in the ESL Writing Class. The Internet TESL Journal, II,(12)

Oshima, A., & Houge, A., Writing Academic English. (3rd ed).

 

Yupi, March 8, 2011

Fenomena Menggelitik pada Remaja

Suatu malam saya pergi ke sebuah pasar di kota tempat saya tinggal. Selain untuk melepas kepenatan setelah beraktivitas seharian penuh, kebetulan ada sesuatu yang hendak saya beli di pasar tersebut. Perjalanan dari tempat tinggal saya ke pasar yang dituju membutuhkan waktu kira-kira tiga puluh menit dengan angkutan umum. Saya suka pergi kemana-mana dengan menumpang angkot, bagi saya ini semacam refreshing dan sarana relax yang cukup murah meriah. Selain bisa mengamati hal-hal menarik sepanjang perjalanan, saya juga sangat suka mengamati orang-orang yang lalu lalang di pinggir jalan yang silih berganti menumpang angkot yang kadang-kadang diselingi dengan berbagai topik obrolan. Diiringi dengan musik yang seolah wajib bagi setiap supir angkot di kota ini, angkot yang saya tumpangi melaju sesaui jalur yang telah ditentukan.

Ada beberapa perempatan lampu merah (kalau tidak salah, ada lima) yang harus dilewati pada jalur angkot yang saya tumpangi. Pada lampu merah yang ke-4, ketika angkot berhenti menunggu lampu hijau, tiba-tiba saya dikejutkan oleh penampilan seorang remaja yang kebetulan ikut memunpang. Ia berpenampilan luar biasa ekstrim dan mencolok menurut ukuran saya, hingga saya tertarik memusatkan perhatian kepadanya selama kira-kira tiga puluh menit, dan selanjutnya kami sama-sama turun dari angkot karena kerena telah sampai pada tujuan, dan kebetulan lagi, tujuannya kami sama.

Selama kurang lebih tiga puluh menit saya benar-benar asyik mengamati si adik “nyetrik” ini dan menghubungkan penampilannya dengan sedikit pengetahuan yang ada di kepala saya. Perkiraan saya, anak ini berumur antara 17 atau 18 tahun dilihat dari penampilan fisiknya, hingga kita bisa sedikit menetapkan istilah baginya yaitu “remaja”. Anak ini berperawakan sedang, tidak tinggi dan tidak pendek, berkulit kuning langsat dan cenderung agak kumal dan awut-awutan. Dia mengenakan celana “jeans” warna biru yang agak ketat, dan kaos oblong warna hitam. Diskripsi penampilan yang baru saja digambarkan itu belum merupakan bagian yang menarik perhatian, tapi bagain aksesoris yang dia pakai di badannyalah hal yang sangat “super” menarik perhatian saya. Dia mengenakan semacam cincin dan ada juga semacam bola kecil,  entah apalah namanya, saya kurang tahu, yang jelas benda itu ditusukkan (hingga mencantel, persis seperti anting pada telinga) ke bagian tubuhnya yang paling pertama terlihat ketika orang bertemu dengannya, yaitu bagian muka. Posisi dekorasi yang dia sematkan pada mukanya; satu di hidung, satu di alis kanan, dua di teling (keduanya di telinga kanan), dan satu lagi di lidah, yang terakhir ini yang paling mencengangkan saya. Aksesoris di lidah ini terlihat ketika ia berbicara di telpon genggam miliknya karena ada seseorang menghubunginya.

Sebenarnya melihat yang sebangsa ini, bukan kali pertama bagi saya. Beberapa bulan sebelum kejadian ini, di dekat tempat tinggal saya, digelar acara sekelompok anak muda yang yang lumayan heboh. Mereka menyewa sebuah gedung olah raga dan melakukan semacam rapat kerja sambil menggelar pentas hiburan. Nah ini lebih heboh lagi (he..he). Penampilan anak-anak yang menggelar acara ini semuanya hampir sama dengan anak yang bertemu dengan saya di angkutan umum itu, malah lebih terksesan ekstrim dengan berbagai dekorasi di badan mereka. Lagu-lagu yang mereka bawakan di pentaspun hampir mirip ocehan yang tak jelas. Celakanya lagu tidak jelas seperti itu dikatan bagus dan kreatif oleh sang pembawa acara.

Sepulang dari pertemuan dengan si adik “nyentrik” di angkutan umum yang diceritakan di atas, saya semakin penasaran dengan fenomena anak muda yang semacam ini. Lantaran rasa penasaran yang lumayan besar, saya langsung berusaha mencari referensi-referensi yang berhubungan dengan fenomena tersebut. Selain melakukan browsing di internet, saya juga membuka-buka buku tentang perkembangan remaja. Dari hasil “mengubek-ubek” referensi tadi, kebanyakan bahasan yang ditemui tentang ini hampir semuanya bernada negatif. Ini cukup mengejutkan. Sepatutnya dipertanyakan kenapa banyak yang mau berpenampilan seperti ini jika sebagian besar sumber mengatakan bahwa ini tidak bermanfaat, negatif, bahkan dituding sebagai simbol dari subkultur dari sebuah komunitas. Cukup mengherankan bukan?

Kebiasan melubangi bagian tubuh dan diberi ornamen ini dalam istilah kita disebut menindik. Di kalangan anak muda di sebut tindik tubuh bahkan fenomena ini sudah diberi label seni menindik tubuh. Di masyarakat Barat, seni ini disebut body piercing. Sebenarnya tindik-menindik tubuh ini sudah ada sejak jaman dahulu. Menurut sejarahnya, tindik sudah dikenal sejak 3000 SM yang terdapat pada mumi tertua, Otzi The Iceman. Mumi ini memiliki lubang pada telinganya yang berdiameter 7-11mm. Sejarah juga mengindikasikan bahwa fenomena ini juga terjadi di zaman Romawi (abad 400 hingga 200 M). Sedangkan di Negara kita sendiri, ini bisa dilihat dari keseharian suku Dayak di Kalimantan hingga saat ini.

Orientasi dan motivasi menindik tubuh bermacam-macam, dan telah terjadi pergeseran dari masa awal hingga sekarang. Awalnya, zaman dahulu orientasi menindik tubuh hanya terbatas pada unsur spiritual, status sosial atau ritual-ritual tertentu. Zaman dahulu kala di Mesir, tindik di pusar menjadi ritual; Tentara Romawi menindik putingnya untuk menunjukkan kejantanan; suku Maya menindik lidah sebagai ritual spiritual; dan anggota kerajaan Victoria dahulu memilih menindik puting dan alat genitalnya. Saat ini, orientasi ini cenderung berubah seiring perubahan zaman. Menurut banyak sumber, orientasi dan motivasi menindik sekarang diantaranya adalah; penasaran, demi seni, meneruskan tradisi nenek moyang, supaya dikatakan “keren” atau “cool”, trend, serta tuntutan komunitas. Bahkan ada juga yang menindik tubuhnya dengan argumen yang sangat tidak masuk akal, yaitu senang menyakiti diri (hii, seram).

Pada zaman modern ini, budaya tindik diprovokasi oleh semangat penolakan dan pembangkangan terhadap norma sosial, hingga terbentuk image anti-sosial. Pada tahun 2003, Tempo Online merilis tulisan tentang pengakuan seorang pemuda pemilik tempat tindik tubuh di Jawa Barat. Pemuda ini sendiri nyata-nyata menindik tubuhnya di berbagai bagaian; teling, hidung, bibir dan juga dan lain-lain. Menurut pengakuannya, dia tidak percaya dengan agama dan ikatan keluarga. Dia pun dengan bangga mengatakan “”Saya ingin mengubah dunia, yang dimulai dari diri sendiri dan membangkang dari keluarga”. Perkataan ini dilatarbelakangi oleh larangan orang tuanya ketika ia akan menindik bagian tubuhnya yang pertama, hingga dia melarikan diri dari rumah. Inilah salah satu contoh motivasi menindik tubuh di zaman sekarang.

Menindik tubuh bisa dilakukan dengan banyak cara dan bisa dilakukan di bayak tempat. Bahkan sudah banyak penindik-penindik professional yang konon benar-benar menempuh pendidikan formal body piercing di luar negeri. Biasanya tempat menindik tubuh ini satu paket dengan tempat membuat tato. Tempat-tempat seperti ini sudah kian mudah dijumpai di tempat-tempat umum, bahkan di Mall pun sudah bisa dijumpai. Secara umum ada empat cara menindik; cara tradisional, cara medis, metode cannula, dan menggunakan senapan tindik. Cara tradisional sama dengan cara dulu yang dilakukan oleh nenek moyang kita. Seseorang yang ingin menindik tubuhnya  menggunakan alat yang tajam, seperti jarum. Lalu dipanaskan dan ditusukkan ke bagian tubuh yang ingn ditindik (biasanya telinga). Secara medis, penindikan menggunakan jarum khusus untuk melubangi bagian tubuh yang ingin ditindik. Biasanya tenaga medis mencari rongga kosong diantara fistula, keadaan abnormal suatu jaringan yang diantara dua epithelium (jaringan kulit). Juga dilakukan oleh tenaga medis, metode cannula biasanya memasukkan sejenis tabung ke bagian tubuh yang akan ditindik, cara kerjanya mirip seperti chateter. Cara terakhir yaitu menggunakan senapan tindik. Ada alat khusus seperti senapan pada umumnya, tapi digunakan untuk menindik. Biasanya penindik sudah melengkapinya dengan satu perhiasan kecil diujung jarumnya. Sehingga begitu jarum menyentuh bagian tubuh yang ingin ditindik, seketika itu pula perhiasan itu menempel di tubuh.

Dilihat dari proses penindikannya ini, kalau ditanya yang sakit apa tidak, rasanya tak perlu ditanya lagi, pastilah sakit. Selain itu, banyak sekali sumber menyebutkan bahwa proses tindik ini sangat beresiko, terutama pada sisi medis. Diantaranya seperti yang dikutip dari Media Indonesia.com di bawah ini:

  1. Penyakit menular lewat darah (blood borne diseases), seperti hepatitis B dan C, tetanus, serta HIV.
  2. Reaksi alergi. Bahan tindikan dari nikel atau kuningan dapat menyebabkan reaksi alergi.
  3. Penyakit mulut dan merusak gigi hingga gusi bengkak karena infeksi.
  4. Guratan dan keloid, akibat pertumbuhan berlebih jaringan parut, seperti bekas luka.
  5. Kanker.
  6. Trauma tindik, seperti robek karena kecelakaan. Kadang memerlukan pembedahan atau jahitan yang bisa meninggalkan bekas luka atau cacat permanen.
  7. Menyebabkan gangguan pada otak.

Resiko-resiko ini bukan isapan jempol belaka. Banyak contoh kasus telah terjadi, misalnya akibat menindik lidah. Berdasarkan berita dari The Sun, seorang wanita di Caerphilly baru-baru ini meninggal karena keracunan darah, dua hari setelah melakukan tindik lidah. Jurnal Archives of Neurology seperti dilansir BBC melaporkan, seorang pria 22 tahun meninggal di rumah sakit setelah mengalami abses otak atau penumpukan nanah di otak, ini juga karena reaksi setelah menindik lidah. Bahkan sebuah penelitan di Australia pada tahun 2006 mengatakan bahwa hampir semua penindik di Adelaide (Australia) pernah menangani kasus alergi setelah klien ditindik; rata-rata setiap pendindik menangani lebih dari 31 orang yang terkena kasus seperti ini. Setelah melihat fakta-fakta ini tentu makin mengherankan kenapa banyak yang mau menindik anggota badannya. Lebih mengherankan lagi, sebagian besar penggandrung tindik ini adalah para remaja. Apakah resiko-resiko seperti tertulis di atas sepadan dengan dalih untuk mengekspresikan diri, hak azasi, tuntutan komunitas, demi trend, supaya dikatakan cool dan sebagainya? Rasanya jauh dari sepadan.

Sekarang kita ulas sedikit alasan kenapa para remaja banyak yang menyukai tindik ini. sebagaimana kita ketahui, usia remaja ini merupakan usia transisi menuju kedewasaan. Usia ini adalah usia dimana manusia benar-benar dalam masa perkembangan yang penuh kebimbangan. Usia remaja tak ubahnya seperti bahtera yang diterpa gelombang di tengah laut yang baru dilayarinya. Masa dimana manusia mengalami transisi baik secara fisiologis/fisik maupun psikologis. Perkembangan fisiologis diantarnya ditandai dengan mulai mimpi basah (laki-laki) atau menstruasi (perempuan), perubahan otot dan suara, dan perkembangan gerak motorik tertentu. Perkembangan psikologis biasanya diikuti oleh perkembangan pemikiran, perasaan, penalaran, dan emosional yang kian kompleks. Perkembangan yang ke-dua ini, perkembangan psikologis, membuat remaja cenderung mengisolasi diri, gelisah, murung dan menentang. Hingga identitas mereka bisa dilihat dari kecenderungan mereka seperti; kurang peduli dengan lingkungan, sering melakukan penentangan, emosi tidak stabil, mudah tersinggung, menghindari tanggung jawab, dan kurang menghargai aturan. Kesemuanya ini menggambarkan kegamanagan mereka. Ini semua proses yang harus mereka alami dalam rangka perubahan status sosial dari kanak-kanak menuju dewasa. Dengan kata lain, mereka sedang mengembangkan identitas tertentu untuk dirinya. Jadi perlu difahami bahwa remaja sedang mengalami krisis identitas sehingga mudah sekali terinfeksi bermacam-macam isu, baik yang positif, maupun yang negatif.

Tugas penting seorang remaja dalam mengembangkan identitiasnya adalah membuat konsep tentang siapa dia, apa yang dia kerjakan, dan kemana dia pergi. Dalam usahanya menemukan konsep ini, remaja membuat standar sendiri dan mengevaluasinya dengan perilaku orang lain. Kemudian ia akan menghormati dan mengadopsi konsep yang ia temukan. Jika ia gagal menemukan konsep ini, maka akan terjadi kebimbangan lantaran gagal menemukan siapa dirinya dan posisinya akan sangat tidak pasti. Ini juga akan mendorong frustasi yang berat. Sebagaimana kita ketahui, standar moral dan nilai-nilai yang diadopsi oleh remaja sebagian besar berasal dari keluarga, terutama orang tua dan juga lingkungan. Lingkungan ini luas sekali cakupannya, bisa lingkungan sekolah, tetangga dan lain-lain. Ini semua yang kelak akan menjadi bagian dari identitas mereka.

Poin penting yang perlu kita garis bawahi tentang usia remaja adalah “krisis identitas” dan “proses pencarian jati diri”. Jika kita kaitkan dengan keheranan kita di atas, tentang gandrungnya para remaja melakukan tindik tubuh, maka cukup beralasan jika kita katakan wajar jika “sepertinya” suka. Walaupun tak sepenuhnya benar kegandrungan ini diartikan dengan kata “suka”. Dalam proses pencarian diri, mereka sangat membutuhkan bimbingan, arahan dan juga nilai-nilai sosial yang baik untuk diadopsi. Nah di sinilah titik temu antar remaja dan tindik. Remaja yang gandrung bertindik ini, kemungkinan besar adalah remaja yang tersesat dalam pencarian jati dirinya. Mungkin pada saat mereka menjalani masa transisi yang sangat labil ini, tidak mendapatkan perhatian maksimal dari orang tua mereka, hingga standar yang mereka butuhkan didapatkan dari sumber lain yang mungkin saja bukan berupa nilai-nilai sosial yang ideal, seperti seni tindik tubuh ini.

Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah peran orang tua sangat penting dalam perkembangan remaja dengan memberikan perhatian, menyediakan standar sosial yang ideal dan juga arahan yang bisa diterima dengan baik oleh remaja. Dengan demikian diharapkan remaja tak akan mengadopsi hal-hal negatif yang pada akhirnya nanti berkonstribusi pada pembentukan karakter mereka. Dapat kita bayangkan betapa meruginya mereka jika terlanjur melubangi telinga (remaja laki-laki), hidung, alis, bibir, lidah atau bahkan organ vital. Semua akses yang ditimbulkan dari tindik ini tak ada yang positif, terutama dari sisi medis. Berbagai resiko penyakit siap menyerang. Belum lagi jika mereka nanti mencari pekerjaan di masa depan; para pengguna jasa akan sungkan menerima pekerja yang berpenampilan kurang wajar. Disney Land yang terkenal secara internasional sebagai tempat hiburanpun tidak menerima pegawai yang tidak berpenampilan wajar, termasuk yang bertindik atau bertato.

References;

  1. Majalah Tempo Online
  2. Tempointeraktif.com
  3. Detik.com
  4. Healthy Body Art, Body Piercing Infection and Injury Research Report Southern Primary Health – Noarlunga October 2006
  5. EB Surbakti, Kenakalan Orang Tua Penyebab kenakalan Remaja. Elex Media Computindo. 2008

Yupi, March 08, 2011.

Bahasa, Matematika dan Statistika Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah

Berpikir adalah hasil kerja pikiran. Pikiran manusia dan proses-proses berpikirnya selalu nampak sama misterius dan menakjubkannya seperti alam semsesta. Namun demikian, pendekatan ilmiah telah semakin memberi andil yang besar bagi pengetahuan. Selama abad terakhir ini telah banyak kejelasan baru yang didapatkan, mengenai hakekat proses berpikir itu dan sementara pengetahuan baru semakin bertambah, pandangan lama yang sederhana telah digantikan dengan pertanyaan-pertanyaan yang kompleks. Setelah sekian lama, manusia semakin bertanya apa itu berpikir? Apakah semua misteri akan hilang kalau kita sudah memahami dan berfungsinya struktur anatomi kompleks yang kita sebut sistem saraf? Apakah berpikir itu memiliki misterinya sendiri?

Plato berpendapat bahwa “Pikir adalah organ yang hanya berkaitan dengan ide-ide murni, artinya tidak ada hubungannya dengan pengindraan karena pengindraan adalah fungsi badan rendah”. Sementara Edward De Bono berkata bahwa Pikiran adalah suatu sistem pembuat pola, sistem informasi dari pikiran pekerja untuk menciptakan dan mengenal pola-pola tersebut, prilaku ini tergantung pada susunan fungsional dari sel-sel urat saraf dalam otak.

Sedangkan ilmiah artinya berdasarkan ilmu pengetahuan. Ilmiah adalah bentuk kata sifat dari ilmu, dan ilmu berasal dari bahasa arab yang artinya tahu. Ilmu secara etimologis berarti ilmu pengetahuan sedangkan secara terminologi ilmu adalah semacam pengetahuan yang mempunyai ciri khas dan pensyaratan tertentu, berbeda dengan pengetahuan biasa. Mungkin untuk sementara kita bisa memakai definisi berpikir itu adalah gejala-gejala nafsiah yang terjadinya karena ada kesadaran didalam diri manusia yang memiliki kemampuan rohaniah untuk membentuk pengetahuan-pengetahuan, data-data ataupun berpikir biasa.

Berpikir adalah serangkaian aktivitas akal budi (rasio) manusia untuk dapat membedakan hal-hal yang memang sama (obyektif) serta mencari nisbat antara kedua hal tersebut untuk mencapai suatu kebenaran. Jadi berpikir ilmiah merupakan tahapan ketiga setelah kita berpikir biasa dan berpikir logis. Namun perlu dipahami bahwa pengetahuan ilmiah bukanlah sejenis barang yang sudah siap yang muncul dari dunia fantasi akan tetapi pengetahuan ilmiah merupakan hasil proses belajar dan proses berpikir secara radikal terhadap sekumpulan pengetahuan-pengetahuan tertentu yang relevan dan sejenis yang universal dan kumulatif karena begitu rumitnya suatu ilmu dan karena persoalannya yang kompleks menuntut untuk dipecahkan guna memperolah kebenaran. Maka cara yang paling efektif dan efesien adalah melalui metode-metode ilmiah. Oleh sebab itu, perlu diketahui  apa saja yang  yang diperlukan bagi seseorang yang ingin bepikir ilmiah. Sarana-sarana itu meliputi; bahasa, matematika, serta statistika dan logika.

Melalui bahasa, manusia dengan manusia dapat saling menambah dan berbagi pengetahuan yang dimilikinya. Manusia dapat mengkomunikasikan dan mentransformasikan penalarannya melalui bahasa yang dimilikinya. Binatang tidak memiliki bahasa seperti manusia, tetapi hanya insting saja. Dua faktor yang menyebabkan manusia dapat mengembangkan pengetahuannya adalah penalaran dan bahasa. Dalam praktiknya, penalaran dibentuk oleh tiga pemikiran yaitu; pengertian/konsep, proposisi dan pernyataan. Tanpa tiga bentuk pemikiran tersebut, manusia tidak mungkin memperoleh penalaran yang benar. Contoh sederhana, mata melihat kambing dan warna hitam pada kambing, secara bersamaan telinga mendengar suara “mengembik” dari kambing tersebut.  Ketika indera sedang mengamati dan mendengar, di dalam otak langsung timbul gambaran imajinasi kata “kambing”, “hitam” dan “mengembik”. Dalam otak, sedang berjalan proses pengertian dan konsep. Setelah tahap ini tersusun dalam imajinasi berfikir, lantas manusia menyerap dan mengucapkan sesuatu sebagai pernyataan. Pernyataan yang terucap hasil proses pemikiran tadi disebut penalaran.

Bahasa verbal mempunyai beberapa kekurangan. Untuk mengatasi kekurangan yang terdapat pada bahasa verbal, maka manusia berpaling pada matematika. Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat artifisial yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan padanya, tanpa itu, maka matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati. Dalam hal ini kita katakan bahwa matematika adalah bahasa yang berusaha untuk menghilangkan sifat mejemuk dan emosional dari bahasa verbal. Matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif sementara dalam bahasa verbal, kita hanya bisa membandingkan objek yang berlainan. Umpamanya gajah dan semut maka kita hanya bisa mengatakan bahwa gajah itu lebih besar dari semut. Berbeda halnya dengan matematika kita bisa menelusuri lebih jauh seberapa besar gajah dengan mengadakan pengukuran.

Matematika merupakan pengetahuan dan sarana berpikir deduktif. Bahasa yang digunakan adalah bahasa artificial yakni bahasa buatan, keistimewaan bahasa ini adalah terbebas aspek emotif dan afektif serta jelas kelihatan bentuk hubungannya. Matematika lebih mementingkan bentuk logisnya. Pertanyaan-pertanyaan mempunyai sifat yang jelas. Pola berpikir deduktif banyak digunakan baik dalam bidang ilmiah maupun bidang lain yang merupakan proses pengambilan kesimpulan yang di dasarkan pada premis-premis yang kebenarnnya telah ditentukan, misalnya jika diketahui A termasuk dalam lingkaran B sedangkan B tidak ada hubungan dengan C maka A tidak ada hubungan dengan C.

Statistika merupakan bagian dari metode keilmuan yang dipergunakan dalam mendiskripsikan gejala dalam bentuk angka-angka, baik melalui hitungan maupun pengukuran. Dengan statistika kita dapat melakukakn pengujian dalam bidang keilmuan sehingga banyak masalah dan pernyataan keilmuan dapat diselesaikan secara faktual.
Pengujian statistika adalah konsekuensi pengujian secara emperis, karena pengujian statistika adalah suatu proses pengumpulan fakta yang relevan dengan rumusan hipotesis. Artinya, jika hipotesis terdukung oleh fakta-fakta emperis, maka hipotesis itu diterima sebagai kebenaran. Sebaliknya, jika bertentangan hipotesis itu ditolak”, maka, pengujian merupakan suatu proses yang diarahkan untuk mencapai simpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa penarikan simpulan itu berdasarkan logika induktif.

Pengujian statistik mampu menggambarkan secara kuantitatif tingkat kesulitan dari kesimpulan yang ditarik yang didasarkan pada asas yang sangat sederhana, yakni makin besar contoh yang diambil makin tinggi pula tingkat kesulitan kesimpulan tersebut. Sebaliknya, makin sedikit contoh yang diambil maka makin rendah pula tingkat ketelitiannya. Karakteristik ini memungkinkan kita untuk memilih dengan seksama tingkat ketelitian yang dibutuhkan sesuai dengan hakikat permasalahan yang dihadapi. Selain itu, statistika juga memberikan kesempatan kepada kita untuk mengetahui apakah suatu hubungan kesulitan antara dua faktor atau lebih bersifat kebetulan atau memang benar-benar terkait dalam suatu hubungan yang bersifat empiris. Selain itu, pengujian statistik mengharuskan kita menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Umpamanya jika kita ingin mengetahui berapa tinggi rata-rata anak umur 10 tahun di sebuah tempat, maka nilai tinggi rata-rata yang dimaksud merupakan sebuah kesimpulan umum yang ditarik dalam kasus-kasus anak umur 10 tahun di tempat itu. Dalam hal ini kita menarik kesimpulan berdasarkan logika induktif.

Logika induktif, merupakan sistem penalaran yang menelaah prinsip-prinsip penyimpulan yang sah dari sejumlah hal khusus sampai pada suatu kesimpulan umum yang bersifat “boleh jadi”. Logika ini sering disebut dengan logika material, yaitu berusaha menemukan prinsip penalaran yang bergantung kesesuaiannya dengan kenyataan. Oleh karena itu kesimpulan hanyalah “keboleh-jadian”, dalam arti selama kesimpulan itu tidak ada bukti yang menyangkalnya maka kesimpulan itu benar.

Logika induktif tidak memberikan kepastian namun sekedar tingkat peluang bahwa untuk premis-premis tertentu dapat ditarik suatu kesimpulan dan kesimpulannya mungkin benar mungkin juga salah. Misalnya, jika selama bulan November dalam beberapa tahun yang lalu hujan selalu turun, maka tidak dapat dipastikan bahwa selama bulan November tahun ini juga akan turun hujan. Kesimpulan yang dapat ditarik dalam hal ini hanyalah mengenai tingkat peluang untuk hujan dalam tahun ini juga akan turun hujan”. Maka kesimpulan yang ditarik secara induktif dapat saja salah, meskipun premis yang dipakainya adalah benar dan penalaran induktifnya adalah sah, namun dapat saja kesimpulannya salah. Sebab logika induktif tidak memberikan kepastian namun sekedar tingkat peluang.

Penarikan kesimpulan secara induktif menghadapkan kita kepada sebuah permasalahan mengenai banyaknya kasus yang harus kita amati sampai kepada suatu kesimpulan yang bersifat umum. Jika kita ingin mengetahui berapa tinggi rata-rata anak umur 10 tahun di Indonesia, umpamanya, bagimana caranya kita mengumpulkan data sampai pada kesimpulan tersebut. Hal yang paling logis adalah melakukan pengukuran tinggi badan terhadap seluruh anak 10 tahun di Indonesia. Pengumpulan data seperti ini tak dapat diragukan lagi akan memberikan kesimpulan mengenai tinggi rata-rata anak tersebut di negara kita, tetapi kegiatan ini menghadapkan kita kepada persoalan tenaga, biaya, dan waktu yang cukup banyak. Maka statistika dengan teori dasarnya, yaitu teori “peluang” memberikan sebuah jalan keluar, memberikan cara untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi. Jadi untuk mengetahui tinggi rata-rata anak umur 10 tahun di Indonesia kita tidak melakukan pengukuran untuk seluruh anak yang berumur tersebut, tetapi hanya mengambil sebagian anak saja.

Sehubungan dengan penjelasan di atas, maka statistika mempunyai peran penting dalam berpikir induktif. Jadi seseorang dapat melakukan generalisasi dengan menguasai statistik Memang betul tidak semua masalah membutuhkan analisis statistik, namun hal ini bukan berarti bahwa kita tidak perduli terhadap statistika sama sekali dan berpaling kepada cara-cara yang justru tidak bersifat ilmiah.

Dari uraian singkat di atas dapat diambil beberapa kesimpulan, antara lain; (1). Berpikir ilmiah adalah serangkaian aktivitas akal budi (rasio) menusia, untuk dapat membedakan hal-hal yang memang berbeda dan menyamakan hal-hal yang memang sama (objektif), serta mencari nisbat antara kedua hal tersebut untuk mencapai suatu kebenaran; (2). Sarana-sarana yang dipakai untuk berpikir ilmiah adalah bahasa, matematika, statistika dan logika; dan (3). Proses berpikir ilmiah adalah merupakan sekumpulan langkah-langkah berpikir yang bersifat objektif, rasional, sistematis dan generalisasi.

Source; Jujun S. Suriasumantri. 1998. FILSAFAT ILMU: Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta

Yupi, Feb, 2011.

Korupsi Apaan Sih?

Istilah korupsi sedang booming (baca: terkenal) di negeri kita yang kian hiruk pikuk ini. Saking terkenalnya istilah ini, sampai-sampai si Dila kecilpun ikut latah mengatakan bahwa kakaknya melakukan korupsi ketika kakaknya “menilep” permen bagainnya yang dititipkan oleh sang Mama kepada kakaknya. Kalau anak kecil saja sudah sangat akrab dengan istilah ini, jelas orang dewasa lebih akrab lagi. Namun demikian, familiaritas istilah korupsi di tengah masyarakat kita sepertinya belum menjamin adanya pemahaman yang mendalam terhadap makna korupsi. Ini dibuktikan dengan mudahnya orang mengatakan orang lain melakukan tindakan korupsi tanpa disertai bukti yang jelas. Salah satu penyebabnya adalah budaya kita yang kurang mau menilik secara detil makna dari suatu kata atau istilah. Situasi ini cukup riskan, karena orang akan cenderung mengatakan sesuatu cuma dengan dasar “kira-kira” saja. Tak jarang orang dengan mudahnya menuding seseorang melakukan tindakan korupsi. Dalam tulisan singkat ini, kita akan menilik sedikit tentang apa sebenarnya korupsi dan apa saja akibat yang ditimbulkan oleh korupsi. Maka dengan mempunyai pengetahuan yang benar tentang korupsi, maka diharapkan agar orang berhati-hati dalam menggunakan istilah korupsi ini.

Kata korupsi berasal dari bahasa Latin, corruptio. Kata ini mempunyai kata kerja corrumpe yang berarti busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, atau menyogok. Sebenarnya kata corruptio ini sudah terserap ke dalam bahasa Indonesia yaitu korup, yang berarti sama dengan bahasa latin tadi; buruk; rusak; atau busuk. Menurut Transparency International, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan ilegal memperkaya diri sendiri atau memperkaya mereka yang dekat denga dirinya, dengan cara menyalah gunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Sedangkan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi adalah perbuatan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan sendiri (seperti menggelapkan uang atau menerima uang sogok). Jadi jelas, antara asal kata korupsi dan serapannya di dalam bahasa Indonesia bersesuaian satu sama lainnya.

Kita baru saja menelaah korupsi dari sisi bahasa dan istilah. Sementara bisa kita simpulkan bahwa secara umum, korupsi itu merupakan tindakan yang merugikan pihak tertentu selain si pelaku tindakan kourupsi. Karena tindakan ini erat hubungannya dengan hak-hak orang lain, maka jelas tidak bisa terlepas dari ranah hukum. Nah, supaya pelaku korupsi ini bisa diseret ke meja hijau, maka diperlukan perangkat hukum yang mengakomodasinya. Korupsi menurut hukum kita (Indonesia) penjelasannya cukup gamblang dalam 13 pasal UU no. 31. Th. 1999. Jo. UU no. 21 Th. 2001. Menurut UU itu ada 30 jenis tindakan yang bisa digolongkan pada tindak korupsi. Tindakan-tindakan itu secara garis besar bisa dikelompokkan dalam 7 kelompok besar, yaitu; kerugian keuntungan Negara; suap-menyuap (istilah lainnya adalah sogok-menyogok atau pelicin); penggelapan dalam jabatan; pemerasan; perbuatan curang; benturan kepentingan dalam pengadaan; dan gratifikasi (istilah lainnya adalah pemberian hadiah).

Jika kita renungi 7 tindakan yang digolongkan dalam korupsi ini, dilihat dari sudut manapun, jelas tindakan-tindakan ini sangat berbahaya dan sangat salah. Salah karena merugikan Negara dan juga orang lain. Setidaknya ada 5 akses negatif yang akan ditimbulkan oleh korupsi; (1). Penegakkan hukum dan layanan masyarakat menjadi tak menentu; (2). pembangunan fisik terbengkalai; (3). prestasi menjadi hal yang tidak ada artinya; (4). jalannya demokrasi akan terganngu; dan (5). tatanan ekonomi akan hancur.

Anda pernah mengurus SIM? Ini contoh yang bagus bahwa penegakkan hukum dan layanan masyarakat sudah tidak pada jalurnya lagi. Semua bisa selesai dengan instan, asal anda sedia sejumlah uang yang dikehendaki oleh oknum yang melakukan praktik korupsi, maka sejumlah tes yang mestinya dilakukan pada saat membuat SIM akan dilewatkan, dan berseliweranlah pengemudi-pengemudi yang tak faham cara mengemudi yang benar di jalan raya. Anda sering bingung kenapa banyak jalan rusak, bahkan kadang-kadang ditengah daerah perkotaan? Inilah akibat dari “penggorokan” dana proyek yang seharusnya memadai untuk membangun jalan yang berkualitas baik dan tidak berlubang jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. Jelas dalam hal ini pembangunan fisik telah terganggu oleh praktik “penggorokan” dana proyek ini.

Pernakah anda mengamati orang-orang yang duduk pada jabatan penting yang seharusnya pintar dan memang kompeten untuk jabatan bersangkutan? Tapi kenyataannya berbeda total dari yang diharapkan. Tak jarang kita melihat seseorang yang tak tahu apa-apa dalam tugasnya. Inilah contoh dari prestasi yang tidak ada nilainya lagi lantaran korupsi. Kenapa seorang kepala daerah tetap saja mendahulukan kepentingan pribadi dan golongannya ketika sedang menjabat? Padahal, sebagai pemimpin ia harus membela kepentingan orang-orang yang ia pimpin. Inilah contoh yang sangat mencolok mata kita sekarang ini bahwa proses jalannya demokrasi sudah tidak pada jalur yang benar lantaran praktik korupsi. Bahkan terkadang proses menjadi pemimpin itu pun tak lupa menyertakan praktik korupsi, maka tak heran jika proses selanjutnya akan penuh dengan korupsi-korupsi selanjutnya.

Pernahkah anda terlibat dalam proses pendirian suatu usaha, katakanlah suatu pabrik? Jika pernah, maka anda akan tahu sendiri bagaimana susah dan berbelit-belitnya menjalani proses ini. Seseorang akan dihadapkan dengan dua kata kunci yang sangat mengganggu yaitu tidak efisien. Orang yang berniat mendirikan usaha ini tak jarang harus menyuap sana-sini supaya urusannya selesai, maka membengkaklah modal pendirian usaha tersebut. Membuka usaha dengan modal kecil, akan lebih cepat kalah dengan orang-orang yang bermodal besar dan dekat dengan pemegang kekuasaan. Jadi tidak heran bila orang asing mulai merasa malas berinvestasi di Negara tercinta kita ini. Maka bukanlah hal yang mengherankan pula jika akhirnya ekonomi menjadi hancur, mencari pekerjaan menjadi susah, yang berakhir pada susahnya untuk bertahan hidup.

Dengan melihat paparan singkat di atas, maka bisa kita simpulkan bahwa mengatakan seseorang melakukan tindakan korupsi haruslah dengan bukti-bukti yang kuat berdasarkan dasar-dasar hukum yang ada. Artinya lagi, kita tidak bisa mengatakan begitu saja bahwa si A melakukan korupsi jika belum ada bukti, tapi katakanlah si A “diduga” melakukan korupsi karena ada indikasi yang mengarah ke tindakan korupsi. Sehingga dibutuhkan pembuktian melalui proses hukum yang berlaku di Negara kita bahwa ia benar-benar telah melakuka korupsi yang menyebabkan terjadinya salah satu akibat dari tindakan korupsi yang ada 5 di atas. jika sudah terbukti maka baru bisa kita katakana bahwa si A melakukan korupsi.

Setelah sedikit berbicara panjang lebar seputar korupsi dan akibatnya, kita kembali pada kasus anak kecil yang “menilep” permen yang bukan haknya di atas itu. Nah kira-kira itu korupsi bukan ya? Jadi jawabannya adalah “anak itu sudah melakukan tindakan cikal bakal korupsi”. Kenapa kita sebut cikal bakal? Karena akibatnya belum separah dan segawat tindakan korupsi yang kita bicarakan di atas. Tetapi ingat, anak itu harus segera diterapi sedemikian rupa supaya pada saat dia dewasa nanti, terlepas akan menjadi apapun dia, tidak akan mengembangkan tindakannya “menilep” permen menjadi tindakan korupsi yang berakibat lebih fatal dan merugikan orang banyak, bahkan Negara.

Note: tulisan ini didasarkan pada buku kecil, sangat kecil, yang saya dapatkan ketika berjalan-jalan di sebuah mall di suatu kota, kebetulan ada sebuah LSM yang sedangkan membagi-bagikan buku kecil ini. buku kecil ini disusun oleh KPK dengan judul; “Pahami Dulu, Baru Lawan !: Buku Panduan Kamu Ngelawan Korupsi”

Yupi, 1 March, 2011

Hidup, Masa Hidup dan Akhir Hidup

Hidup manusia tak bisa lepas dari yang namanya waktu, tapi celakanya, manusia malah kadang lupa esensi dari waktu dan dirinya. Waktu serasa begitu saja berlalu. Hari demi hari berjalan dengan cepat. Senin, selasa, rabu, seolah tak terasa. Tanpa sadar diantara kita telah melampaui separuh jalan, sepertiga jalan, dan bahkan di ujung jalan. Masa kanak-kanak seolah sekejap, masa remaja seolah semenit, dan masa dewasa telah menjelang renta pula. Tanpa terasa, kulit mulai keriput, mata mulai kurang jelas melihat, makan pun mulai tak terasa nikmat lagi.

Timbul pertanyaan; “Apakah waktu mempercepat dirinya? Apa sebenarnya yang membuat waktu terasa berlalu begitu cepat? Mengapa manusia seringkali lupa dengan esensi dirinya? Jawaban pertanyaan pertama pastilah “tidak”, waktu tidak pernah mempercepat dirinya. Ilmuan psikologi di dunia barat mengatakan bahwa sebenarnya manusia teralihkan perhatiannya oleh aktivitas, hingga waktu terasa lebih cepat karena manusia terlalu sibuk dengan aktivitasnya. Rasanya tidaklah berlebihan jika kita katakan bahwa inilah yang seringkali menyebabkan manusia lupa akan esensi dirinya hadir di dunia. Inilah jawaban dua pertanyaan terakhir.

Jika melongok Kamus Besar Bahasa Indonesia, waktu merupakan suatu entri yang mempunyai arti; “seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung”. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/ kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Dari sini jelaslah kiranya, bahwa di dalam waktu itu sendiri ada unsur “keadaan atau kejadian”, di sinilah terjadinya pengalihan perhatian manusia berupa aktivitas-aktivitas yang tak ada habisnya.

Manusia mempunyai kepala masing-masing dengan isi masing-masing pula. Syahdan, perbedaan pandangan, orientasi, dan tujuan hidup manusia tak bisa dihindari pula. Ini juga akan berujung pada persoalan bagaimana seseorang si empunya kepala menentukan akan seperti apa dia mengisi waktu hidupnya. Maka sungguh benarlah ungakapan-ungkapan tentang waktu yang dibiarkan fleksibel tanpa menyebutkan bagi si “Anu” harus menggunakan waktunya seperti “A”, atau si “B” harus menggunakan waktunya seperti “B”. Ungkapan-ungkapan yang dimaksud seperti; “Waktu adalah pedang, jika kamu tidak bisa memotongnya, maka ia yang akan memotongmu” dan Men talk of killing time, while time quietly kills them”.

Einstein menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya dengan rumus-rumus Fisika yang memusingkan sebagian orang, tapi tidak baginya. Michael Jackson, menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya dengan menggoyangkan badan seraya bernyanyi melengking dari panggung ke panggung, dan itu sangat menyenangkan baginya. Hitler menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya dengan perburuan terhadap suatu ras manusia yang dianggapnya hina, dan itupun menyenangkan baginya. Paling tidak, inilah cara menghabiskan waktu bagi orang-orang ini yang tercatat dan diketahui dunia. Begitu seterusnya jika ditilik cara manusia menghabiskan waktu hidupnya. Semua yang disebutkan ini sudah selesai waktunya, buku mereka telah ditutup, diletakkan di perpustakaan-perpustakaan dunia.

“Saya”, “Anda”, “Dia”, “Mereka” dan “Kalian” yang masih mempunyai waktu, semuanya berhak memilih kegiatan terbaik menurut masing-masing “kepala” yang akan dilakukan untuk mengisi waktu dalam hidup ini. Einstein, MJ, dan Hitler telah menentukan pilihan mereka. Sekarang, tinggal giliran “Saya”, “Anda”, “Dia”, “Mereka” dan “Kalian”. Dalam mengisi waktu hidup bagi saya, yang terpenting adalah “Saya hanya ingin bisa berdoa dengan dengan wajah sumringah, bernar-binar penuh kegembiraan” setiap saat. Dan yang paling saya takuti adalah “Menjadi seorang tua renta yang di akhir hidupnya, berdoa kepada Tuhan dengan rasa penyesalan, rintihan dan kesedihan lantaran waktu berbuat yang terbaik untuk Tuhannya sudah terlambat”.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

1. Demi masa, 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. 3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S; Al ‘Ashr; 1-3)

Yupi, Feb 25, 2011.